Hati-hati

Kucing

Ada arisan keluarga di rumah kakak. Di lantai atas ada ruangan yang untuk sementara dipakai jadi ruangan sholat. Karena ada seorang ibu yang sedang sholat, anak perempuan saya tidak bisa melintas. Dia menunggu. Ketika orang tersebut sujud, anak saya melihat ada kesempatan melintas. Segera dia berjalan di belakang orang tersebut. Meski tergesa-gesa,anak saya tetap melangkah hati-hati agar tidak menginjak kaki ibu tadi. Tiba-tiba, “Duk”, terdengar suara benturan. Ternyata di pinggir dinding ada rak kayu menonjol. Gara-gara terlalu perhatian ke bawah, dia tidak melihat bahwa di atas ada rak. Hasilnya adalah suara “Duk” tadi, kepala beradu rak kayu.

***

Rumah kami bertambah satu anggota keluarga. Namanya Monti. Masih kecil, sangat suka berlari ke sana ke mari. Kadang bermain dengan bola karet, atau kertas, atau bahkan dengan kaki salah seorang dari kami.

Monti namanya. Berasal dari kata Moncong Putih. Ya, si kucing kecil ini jadi primadona keluarga kami sekarang. Tingkahnya sangat gesit, aktif, lucu.

Yang saya perhatikan, ketika sedang makan dia acap kali berhenti sebentar, menegakkan kepala, menengok kiri kanan, depan belakang. Melihat dan menimbang situasi. Ketika dirasa aman, baru dia menundukkan kepala dan meneruskan makan. Tak peduli betapa lapar, dia tetap melakukan kebiasaan itu. Biar pun tidak ada yang mengancam di keluarga kami. Tidak ada yang akan merebut makanannya. Tidak ada yang ingin mencelakainya. Tapi tingkah kehati-hatian dan waspada itu tetap dilakukan. Entah mungkin insting alami lah yang mengajarinya begitu.

***

Dalam hidup , kita diharuskan selalu waspada dan hati-hati. Agar tidak terdengar suara “duk” karena kepala terbentur sesuatu. Hendaklah belajar dari Monti yang selalu waspada walau sangat lapar dan makanan sudah siap disantap di depan.

***

Dalam bisnis, pengerjaan satu proyek harus seteliti mungkin dan tiap segi diperhatikan. Misal proyek pengadaan. Perencanaan matang diperlukan. Tidak hanya harga barang yang dilihat, tapi juga keseluruhan spesifikasi diteliti. Cara pengiriman, apakah perlu pengiriman yang rumit, berapa beratnya, apa perlu alat khusus untuk membawanya ke lantai yang diinginkan. Jika salah satu dilupakan atau tidak diperhitungkan, proyek bisa tertunda (delay) atau menjadi rugi karena adanya pengeluaran tak terduga. Atau bahkan gagal sama sekali.

Demikian juga berhubungan dengan orang. Perlu waspada dan hati-hati akan ucapan kita. Apakah yang akan kita ucapkan itu benar dan berdasar fakta?

Itu belum cukup. Apakah bermanfaat? Apakah tidak menyakiti sebagian orang?

Dalam era sosial media, hati-hati dengan posting anda. Banyak yang mengirim posting-posting yang belum tentu benar. Kemudian dengan cepat kita teruskan hanya karena tidak ingin didahului orang lain dalam memposting berita baru. Ingin dianggap yang paling tahu berita.

Tahan jari. Tahan hati. Periksa apakah berita tersebut benar? Apabila benar, apakah tidak akan menyakiti sebagian orang? Kemudian filter ketiga apakah bermanfaat ataukah lebih banyak mudhorot? Bila tiga filter terlewati, barulah dikirim.

Dan banyak lagi kondisi di dunia ini yang membutuhkan kehati-hatian kita. Agar tidak ada suara “Duk” terdengar. Termasuk dalam hal ini hubungan dengan Allah swt. Ikhlas, tidak riya, tidak syirik, tidak ingin mendapat pujian orang, de el el de el el. Kalau suara “Duk” terdengar dari langit, wah fatal itu.

Depok, Nopember 2016

 

2 thoughts on “Hati-hati

  1. November 14, 2016 at 00:12

    This paradigm- only move if certain- will lead to a lot of inaction. As Mark Zuckerburg says, “Better complete than perfect”.
    Then again, hastiness is from Shaytan. Hm.

    1. admin
      November 15, 2016 at 22:52

      As one of the wise judge said: Releasing a wrong doer is better than punishing an innocent person.

Leave a Reply to umar miftah fauzi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *